Outbond

Asal-usul outbound sendiri, berawal dari program pelatihan anak buah kapal salah satu pelayaran di Inggris.Pelatihan dilakukan tidak hanya di laut tetapi juga di darat yang berupa petualangan di alam, selama 26 hari. Istilah awal yang diberikan untuk pelatihan tersebut adalah “County Badge”. Kemudian berubah menjadi Outward Bound.

Istilah Outward bound inilah yang kemudian terus dipakai sampai hari ini. Istilah Outward Bound sendiri sudah dipatenkan,sehingga semua orang boleh menggunakan istilah tersebut. Mungkin karena istilah Outward Bound sudah dipatenkan banyak orang kemudian menggunakan istilah ‘outbound’.

Peserta Outbond merupakan suatu kelompok yang terdiri dari beberapa orang, dapat dimulai dari outbond yang diperuntukkan bagi anak – anak sampai orang dewasa. Para siswa maupun karyawan suatu instansi perusahaan. Sedangkan tempat – tempat yang cocok dijadikan sebagai tempat untuk outbond, misalnya daerah pegunungan, kawasan hutan lindung, atau bahkan daerah pedesaan.

Tujuan Outbound 

1.Mengetahui dan memahami adanya “individual differences” yaitu tiap individu adalah unik.

2.Mampu melakukan penilaian pada diri sendiri “Self Assessment” bahwa kekuatan diri ada pada tangan kita sendiri dan pada pilihan- pilihan kita.

3.Meningkatkan kepekaan “Self Awareness” terhadap orang lain.

4.Meningkatkan kepercayaan diri dan keberanian mengambil risiko “Risk Taking Behavior”.

5.Meningkatkan ketrampilan komunikasi.

6.Mampu membuat perencanaan dengan pertimbangan risiko dan konsekuensinya.

7.Mampu membentuk tim yang efektif / kekompakan.

8.Meningkatkankemampuan kepemimpinan.

9.Menumbuhkan sikap ksatria dan sportif.

 

Latar Belakang
Rutinitas pekerjaan, ketatnya persaingan yang mengakibatkan kelelahan fisik maupun mental yang terakumulasi menjadi kebosanan.
Untuk melepaskan diri dari segala ketegangan dan kepenatan, setiap orang membutuhkan waktu jeda dan mengistirahatkan fisik maupun mental dengan kegiatan di luar kantor atau dengan kata lain dengan aktifitas outbond / team building

Outbond Provider
Kami menawarkan berbagai kegiatan yang diharapkan dapat menjawab dari kendala-kendala tersebut.
Kegiatan yang menawarkan berbagai aktifitas berbasis alam terbuka dikolaborasikan dengan berbagai permainan yang menyenangkan dengan tidak menghilangkan unsur edukatif.

Jika Anda Berminat untuk outbond silahkan menghubungi hotline kami

Travel Division

Office :
Graha Amiura 1st Floor
Grand Cikarang City Blok C12 No 10, Cikarang Utara Bekasi 17530

Telp /Wa : 0813 7947 5757

email : marketing@adventure.co.id

Rafting

Sebagaimana Internasional Rafting Federation (IRF), Pengertian rafting atau arung jeram sebagai “suatu aktivitas manusia dalam mengarungi sungai dengan mengandalkan keterampilan dan kekuatan fisiknya untuk mendayung perahu yang berbahan lunak yang secara umum diterima sebagai suatu kegiatan sosial, komersil dan olah raga”. Baca juga :

Walaupun pada awal perkembangannya di Indonesia istilah rafting memiliki beberapa penyebutan, namun dalam standar kompetensi ini terminologi “arung jeram” dipakai sebagai istilah untuk menyebutkan suatu “kegiatan mengarungi sungai dengan menggunakan perahu karet maupun wahana sejenis lainnya dengan awak dua orang atau lebih yang mengandalkan kekuatan mendayung”. Baca juga :

Pengertian wahana dalam pengarungan sungai berjeram / riam yaitu sarana / alat yang terdiri dari perahu karet, kayak, kano dan dayung. Tujuan berarung jeram bisa dilihat dari sisi olah raga, rekreasi dan ekspedisi. Jadi dengan demikian kita dapat definisikan bahwa olah raga Arung Jeram (White Water Rafting) merupakan olah raga mengarungi sungai berjeram, dengan menggunakan perahu karet, kayak, kano dan dayung dengan tujuan rekreasi atau ekspedisi. Baca juga :

Rafting atau Arung jeram sebagai olah raga kelompok, sangat mengandalkan pada kekompakan tim secara keseluruhan. Kerja sama yang terpadu dan pengertian yang mendalam antar awak perahu, dapat dikatakan sebagai faktor utama yang menunjang keberhasilan melewati berbagai hambatan di sungai. Tak dapat dibantah bahwa Arung Jeram merupakan olah raga yang penuh resiko (high risk sport). Namun demikian, setiap orang mampu melakukannya – asalkan dia dalam kondisi “baik”; baik dalam arti pemahaman teknis, kemampuan membaca medan secara kognitif, dan sehat fisik dan mental. Baca juga :

Jadi rafting atau arung jeram adalah olah raga yang menuntut keterampilan. Untuk itu sangat membutuhkan waktu untuk berkembang. Perkembangan ke arah mencapai kemampuan yang prima, hanya mungkin apabila mau mempelajari sifat-sifat sungai, serta bersedia melatih diri di tempat itu. Kecuali perlu mengembangkan pengetahuan mengenai sifat-sifat sungai, wajib pula berlatih berdayung, berkayuh di sungai. Baca juga :

 Implikasinya butuh mengembangkan kemampuan fisik, agar selalu mencapai kondisi seoptimal mungkin. Hal lain yang patut diingat, adalah berlatih cara-cara menghadapi keadaan darurat di sungai. Hal ini penting untuk melatih kesiapan, kemampuan dan kepercayaan diri, apabila memang harus menghadapinya. Baca juga :

 

Jika Anda Tertarik Silahkan Menghubungi Hotline Kami:

Jona Adventure

Travel Division

Office :
Graha Amiura 1st Floor
Grand Cikarang City Blok C12 No 10, Cikarang Utara Bekasi 17530

Telp /Wa : 0813 7947 5757

email : marketing@adventure.co.id

Panahan

Panahan adalah kegiatan menggunakan busur panah untuk menembakkan anak panah. Bukti-bukti menunjukkan panahan dimulai sejak 5.000 tahun lalu. Awalnya, panahan digunakan dalam berburu sebelum berkembang sebagai senjata dalam pertempuran dan kemudian jadi olahraga ketepatan. Seseorang yang gemar atau merupakan ahli dalam memanah disebut juga sebagai pemanah.

Busur telah ditemukan pada masa Paleolitik atau awal periode Mesolitik. Petunjuk tertua akan fungsinya di Eropa datang dari Stellmoor di Lembah Ahrensburg, bagian utara dari Hamburg, Jerman dan tanggal dari akhir Paleolitik, sekitar 10.000-9.000 SM. Panah dibuat dari kayu pinus dan terdiri dari poros utama dan sebuah poros depan sepanjang 15-20 sentimeter atau 6-8 inci dengan sebuah titik batu.

Pada zaman dahulu tidak ditemukan busur, sebelumnya ditemukan poros bertitik, tetapi mungkin pada zaman dahulu orang menggunakan pelempar tombak daripada busur. Sejauh ini busur tertua diketahui datang dari rawa Holmegard di Denmark. Akhirnya busur menggantikan pelempar tombak sebagai sarana utama untuk melepaskan batang peluru, dan di setiap benua kecuali Australia, meskipun pelempar tombak bertahan di samping busur di benua Amerika terutama Meksiko (di mana “pelempar tombak” itu atlatl dalam bahasa Nahuatl) dan di antara Suku Inuit. Tapi seperti yang kita tahu busur tertua datang dari Yunani Kuno pada 2800 SM.

Dari buku-buku melukiskan bahwa orang purbakala telah melakukan panahan yaitu menggunakan busur dan panah untuk berburu dan untuk mempertahankan hidup. Bahkan dari beberapa buku melukiskan bahwa lebih dari 100.000 tahun yang lalu suku Neanderathal telah menggunakan busur dan panah. Ahli-ahli purbakala dalam penggalian di Mesir juga telah menemukan tubuh seorang prajurit Mesir Kuno yang menemui ajalnya karena ditembus anak panah.

Data menunjukkan bahwa kejadian itu terjadi kira-kira 2100 tahun sebelum masehi. Dari beberapa buku juga mengemukan bahwa sampai kira-kira tahun 1600 sesudah Masehi, busur dan panah merupakan senjata utama setiap negara dan bangsa untuk berperang.

Hingga kinipun masih ada suku-suku bangsa yang mempergunakan busur dan panah dalam penghidupan sehari-hari mereka, seperti : suku-suku bangsa di hutan-hutan daerah hulu sungai Amazone, suku-suku Veda di pedalaman Srilangka, suku-suku Negro di Afrika, suku-suku Irian di Irian Jaya, suku Dayak dan suku Kubu Dari buku-buku dan keterangan-keterangan yang diperoleh maka terdapat dua kelompok ahli yang mengemukakan dua teori yang berbeda.

Yang pertama berpendapat bahwa panah dan busur mulai dipakai dalam peradaban manusia sejak “era mesolitik” atau kira-kira antara 5000 – 7000 tahun yang silam, sedang pendapat kedua percaya bahwa panahan lebih awal dari masa itu, yaitu dalam “era paleolitik” antara 10.000 – 15.000 tahun yang lalu.